“Para pemilik tenant kesal karena arus listrik yang mati menyala akan membuat peralatan mereka rusak. Bahkan keberadaan ivent tidak terlihat dari jalanan karena gelap gulita“
detiksekilas.com, Manado—Hari Jumat, 19 Juni 2026, seharian penuh warga dan pengunjung yang antusias menantikan gelaran GANN Sulut Fest Street Food & Multi Product Pop Up Market di Lapangan Sparta Tikala.
Tapi sayangnya, ekspektasi tinggi berubah menjadi kekecewaan mendalam bagi para pemilik tenant yang ikut meramaikan acara ini.
Bayangkan saja, mereka yang sudah menyiapkan dagangannya dengan penuh semangat dan dana ratusan ribu rupiah harus menghadapi kenyataan pahit.
Fasilitas utama yang dijanjikan panitia seperti lampu penerangan dan listrik untuk menjaga kesegaran makanan dan minuman sama sekali tidak ada!
Dari sore hingga malam hari, lapangan tampak gelap gulita. Lampu mati menyala dan tribun tanpa penerangan sama sekali. Bagi para pedagang makanan dan minuman, ini adalah mimpi buruk yang nyata.
“Saya sampai bertanya-tanya, apa acara ini cuma sekadar janji manis? Dijanjikan semua lengkap, tapi kenyataannya? Nol besar! Sejak pagi sampai malam, nggak ada pergerakan dari panitia buat atur listrik. Padahal kami sangat membutuhkan aliran listrik agar makanan tetap fresh dan aman dikonsumsi,” ungkap salah satu pemilik tenan yang enggan disebutkan namanya.
Total ada sekitar 30 tenant yang mengikuti acara ini. Mereka masing-masing membayar Rp100 ribu sebagai tanda jadi dan total biaya pendaftaran mencapai Rp600 ribu. Dengan biaya sebesar itu, mereka berharap mendapatkan fasilitas seperti kursi, meja untuk pengunjung, papan nama stand, serta tentu saja penerangan yang layak.
Namun harapan tinggal harapan. Banyak dari mereka mengeluhkan respons lambat dari panitia melalui grup WhatsApp resmi. Awalnya janji manis dari panitia membuat mereka merasa yakin akan kelancaran acara. Tapi nyatanya?
“Di grup WA panitia cuma jawab seadanya, bilang masih tunggu konfirmasi ke Pemkot Manado. Seakan-akan mereka mau cuci tangan begitu saja, terlebih event ini akan digelar selama 4 hari mau jadi apa,” ujar salah satu pedagang.
Lebih jauh lagi, para pemilik tenant merasa dipermainkan dan dirugikan secara ekonomi serta waktu. Mereka menilai bahwa panitia lebih suka mengejar keuntungan tanpa memikirkan tanggung jawab terhadap peserta dan pengunjungnya.
“Kalau memang tidak mampu mengadakan acara sebesar ini secara profesional, ya jangan dipaksakan! Akibatnya ya kami sendiri yang jadi korban,” tegas mereka dengan nada kecewa sekaligus marah.
Bahkan dengan jumawa, panitia menjanjikan ke para peserta tenant jika traffic 250 pengunjung akan hadir setiap harinya.
Pengalaman pahit ini menambah daftar panjang kegagalan penyelenggaraan event di Sulawesi Utara yang sering kali dilanda masalah koordinasi dan komunikasi. Semoga ke depan pihak penyelenggara lebih profesional dan menjaga kepercayaan peserta serta pengunjung agar acara tetap berjalan lancar dan menyenangkan.
Sementara itu, warga Manado berharap kejadian ini menjadi pelajaran penting agar event-event serupa tidak terulang kembali dengan janji palsu yang hanya memberi harapan palsu pula. Karena di balik semua itu, rakyat tentu ingin menikmati festival dengan suasana ceria dan fasilitas lengkap tanpa harus merasa tertipu di ujung jalan.(tim/ds)





